Proses
Pengambilan Keputusan Dalam Pembelian
- Pengertian Keputusan Pembeli
Pengertian
Keputusan Membeli Untuk mendapat gambaran mengenai keputusan membeli, berikut
ini akan dikemukakan definisi mengenai keputusan membeli menurut para ahli.
Menurut Kotler (2009) keputusan membeli yaitu: “beberapa tahapan yangdilakukan
oleh konsumen sebelum melakukan keputusan pembelian suatu produk”.
Pengambilan
keputusan membeli adalah proses pengenalan masalah (problem recognition),
pencarian informasi, evaluasi (penilaian) dan seleksi dari alternatif produk,
seleksi saluran distribusi dan pelaksanaan keputusan terhadap produk yang akan
digunakan atau dibeli oleh konsumen (Munandar, 2001).
Menurut
Setiadi (2010) perilaku membeli mengandung makna yakni kegiatan-kegiatan
individu secara langsung terlibat dalam pertukaran uang dengan barang dan jasa
serta dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan kegiatan tersebut.
Keputusan konsumen untuk membeli suatu produk selalu melibatkan aktivitas
secara fisik (berupa kegiatan langsung konsumen melalui tahapan-tahapan proses
pengambilan keputusan pembelian) dan aktivitas secara mental (yakni saat
konsumen menilai produk sesuai dengan kriteria tertentu yang ditetapkan oleh
individu). 12 Keputusan pembelian yang diambil oleh pembeli sebenarnya
merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan yang terorganisir.
- Proses – proses Keputusan Pembeli
Proses-proses
dalam Keputusan Membeli Menurut pemahaman yang paling umum, sebuah keputusan
adalah seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih. Berikut ini beberapa
pendapat ahli mengenai proses pengambilan keputusan membeli yang dilakukan
konsumen.
Menurut
Kotler (2009) terdapat lima proses keputusan pembelian yang dilalui oleh setiap
individu dalam melakukan pembelian, yaitu :
- Pengenalan kebutuhan Tahap awal
keputusan membeli, konsumen mengenali adanya masalah kebutuhan akan produk
yang akan dibeli. Konsumen merasa 13 adanya perbedaan antara keadaan nyata
dan keadaan yang di inginkan. Kebutuhan sangat dipicu oleh ransangan
internal (kebutuhan) dan eksternal (pengaruh pengguna produk serupa sesuai
kebutuhan).
- Pencarian informasi Tahap
keputusan pembelian yang dapat meransang konsumen untuk mencari informasi
lebih banyak. Konsumen mungkin hanya meningkatkan perhatian atau mungkin
aktif mencari informasi.
- Evaluasi alternatif Proses yang
dilakukan konsumen untuk menggunakan informasi yang didapat untuk
mengevaluasi alternatif yang ada, proses memilih produk yang akan dibeli.
- Keputusan pembelian Konsumen
merencanakan untuk membeli sebuah produk dan kemudian membeli produk
tertentu untuk pemenuhan kebutuhan.
- Tingkah laku pasca pembelian Tindak lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau tidaknya konsumen pada produk yang digunakannya.
- Model – model pengambilan
keputusan :
- Model Perilaku Pengambilan keputusan
- Model Ekonomi yang dikemukakan
oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional, yaitu
berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau
untuk memperoleh keuntungan maksimum.
- Model Manusia Administrasi
Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak
menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan.
- Model Manusia Mobicentrik
Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga
orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan.
- Model Manusia Organisasi
Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan
penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan.
- Model Pengusaha Baru
Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif.
- Model Sosial Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
- Model Preskriptif dan Deskriptif
Fisher
mengemukakan bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan, yaitu:
ü Model Preskriptif Pemberian resep
perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya mengambil
keputusan.
ü Model Deskriptif Model ini
menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu.
- Teknik-teknik Pengambilan
Keputusan
- Teknik Kreatif
- Brainstorming Berusaha untuk
menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan
memberikan kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
- Synectics Didasarkan pada
asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dimaksudkan
untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok
- Teknik Partisipatif
Individu
individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
v Teknik Modern
v Teknik Delphi
v Teknik Kelompok Nominal
- Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pemecahan
Konsumen
menggunakan pemecahan masalah yang terbatas ketika mereka melakukan sedikit
usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sering dilakukan oleh konsumen
ketika membeli suatu produk yang telah mereka gunakan sebelumnya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi jangkauan pemecahan masalah :
1.Alternatif-alternatif
dibedakan dengan cara yang relevan, misalnya pembelian rumah,
alternatif
pemilihan adalah lingkungan rumah (bersih, tidak banjir, dekat kota atau
mudah
transportasi), bahan baku, harga (cicilan rendah dan lama).
2.Tersedia
waktu yang memadai untuk pertimbangan yang mendalam untuk membeli produk.
3.Terdapat
tingkat keterlibatan (relevansi pribadi) yang tinggi yang menyertai
pembelian.
Terdapat 5
faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
1. Motivasi
(motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk
mencapai
tujuan tertentu.
2. Persepsi
(perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau
kejadian
yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap
rangsangan
tersebut.
3. Pembentukan
sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri
seseorang
yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
4. Integrasi
(integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan.Integrasi
merupakan
respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang
untuk
membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak
membeli
produk tersebut.
5. Pembelajaran
(learning) merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah
membeli
produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan
akan
dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.
- Struktur Keputusan Membeli
Struktur
keputusan membeli penting,karena sesudah menetukan kebutuhan dan mempunyai
keinginan akan produk tertentu, konsumen diharapkan untuk memunculkan keputusan
untuk membeli. Ada tujuh struktur keputusan membeli yang mempengaruhi konsumen:
- Keputusan tentang jenis produk
Konsumen
dapat memutuskan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli produk X atau tujuan
lain selain melakukan pembelian. Para pemasar harus memusatkan perhatian pada
konsumen yang diharapkan memutuskan untuk untuk membeli produk X dari
alternatif lain yang mereka pertimbangkan uangnya untuk membeli komputer atau
keperluan lain (membeli kamera, pakaian, dan buku).
- keputusan tentang jenis produk
Konsumen
memutuskan untuk membeli produk X dengan bentuk tertentu (ukuran, mutu,
corak,dan sebagainya). Perusahaan harus menggunakan riset pemasaran untuk
mengetahui kesukaan konsumen (untuk memaksimumkan daya tarik merk produk X,
misalnya mahasiswa tersebut menentukan karakteristik dari komputer yang
diinginkan yaitu laptop, Pentium 120, kemampuan memproses cepat, fasilitas
lengkap (baterai, CD drive, mouse).
- keputusan tentang merek
Konsumen
memutuskan merk yang akan diambil. Perusahaan harus mengetahui bagaimana
konsumen memilih sebuah merk. Misalnya berdasarkan informasi yang dihimpun,
mahasiswa tersebut memilih untuk mendapatkan komputer merk acer.
- keputusan tentang penjualan
Konsumen
memutuskan dimana akan membeli (toko serba ada, elektronik, toko khusus dan
lain-lain, perusahaan ( termasuk pedagang besar, pengecer) Harus mengetahui
bagaimana konsumen memilih penjual tertentu. Misalnya mahasiswa tersebut
mempunyai pilihan membeli di toko elektronik, toko khusus komputer atau agen
tertentu. Disamping pertimbangan harga, ia mempertimbangkan pula layanan yang
didapat baik pada waktu membeli layanan purna jual.
- Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen
memutuskan jumlah produk yang akan dibeli. Perusahaan harus mempertimbangkan
banyaknya produk tersedia untuk konsumen sesuai keinginan konsumen yang
berbeda-beda.
- keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen
memutuskan kapan harus membeli (kapan uang/kesempatan tersedia). Perusahaan
harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam penentuan waktu
pembelian, yang juga mempengaruhi perusahaan dalam mengatur waktu produksi,
pemesanan, periklanan dan sebagainya.
- Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen
memutuskan mode pembelanjaan yang disukainya, perusahaan harus mengetahui hal
ini yang akan mempengaruhi dalam penawaran pembayaran (discount untuk tunai,
kemudahan kredit, bunga rendah, dan lain-lain).
Kesimpulan :
Jadi yang
dimaksud dengan pengambilan keputusan dalam pembelian adalah sebuah proses
pengenalan masalah, pencarian informasi, atau seleksi terhadap dua alternatif
atau lebih dari sebuah produk. Proses dalam keputusan membeli menurut kotler
ada lima, Pengenalan kebutuhan Tahap awal keputusan membeli, Pencarian
informasi Tahap keputusan pembelian, Evaluasi alternative, Keputusan pembelian
dan Tingkah laku pasca pembelian.
Model
pengambilan keputusan dibagi atas dua model. Yang pertama model perilaku
pengambilan keputusan dan yang ke dua model preskriptif dan deskriptif.
Sedangkan untuk teknik-teknik pengambilan keputusan ada dua teknik, Teknik
kreatif yaitu berusaha untuk mendapatkan kreatifitas maksimal dari kelompok
dengan mendengarkan ide-ide dari aonggotanya, teknik partisipatif yaitu dengan
melibatkan atau ikut berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Pada
struktur keputusan untuk membeli itu sangat penting karena konsumen sudah
menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan akan suatu produk tertentu dan
diharapkan dapat memicu keputusan konsumen untuk membeli.
Sumber :
- http://sheilynurfajriah.blogspot.co.id/2012/10/proses-pengambilan-keputusan.html
- https://yogicogil.wordpress.com/2015/11/21/proses-pengambilan-keputusan-dalam-pembelian-soft-skill/
2 model dalam pengambilan Keputusan
A. Proses
mempengaruhi
Segala
sesuatu memerlukan proses, termasuk proses untuk mencapai tujuan pribadi maupun
kelompok dalam organisasi. Dalam mencapai tujuan organisasi baik pemimpin
maupun anggota memiliki tanggung jawab masing-masing. Pemimpin dan anggota
berhubungan timbal balik dan kinerjanya akan saling mempengaruhi dalam mencapai
tujuan organisasi. Pengaruh adalah kegiatan yang secara langsung atau tidak
langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau
kelompok. Elemen proses mempengaruhi ada 3 yaitu
- Orang yang mempengaruhi
- Metode yang mempengaruhi
- Orang yang dipegaruhi
Pengaruh
dapat terjadi antar perorangan artinya seseorang mempengaruhi seseorang yang
lainnya, kelompok dengan seseorang dan seseorang dengan kelompok.
Hubungan
antara kekuasaan dan pengaruh diantaranya dikemukakan oleh Analisis
French-Raven intinya adalah sebagai berikut:
Mereka
mendifiniskan kekuasaan berdasarkan pada pengaruh, dan pengaruh berdasarkan
pada perubahan psikologis. Pengaruh adalah pengendalian yang dilakukan oleh
seseorang dalam organisasi (masyarakat) terhadap orang lain. Konsep penting
atas gagasan ini adalah bahwa kekuasaan merupakan pengaruh laten (terpendam)
sedangkan pengaruh merupakan kekuasaan dalam kenyataan (yang direalisasikan).
B. proses
pengambilan keputusan
Menurut
James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan antara alternatif-alternatif.
Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu :
- Manajer harus membuat pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
- Manajer menghadapi beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik
- Manajer mempunyai tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekati pada tujuan tersebut.
Bderdasarkan
dari pendapat James A.F. Stiner, Stephen P. Robbins, dan David R. Hampton dapat
disimpulkan bahwa proses pembuatan keputusan mengandung langkah-langkah sebagai
berikut :
- Identifikasi masalah
- Mendapatkan dan menganalisa informasi
- Menyusun alternatif
- Menganalisa dan memilih alternatif terbaik
- Melaksanakan keputusan
Menurut
opini saya :
Proses
mempengaruhi (melobby) juga dibutuhkan dalam berorganisasi. Misalnya, ketika
sedang voting untuk meentukan sebuah keputusan, disaat keputusan minoritas
belum menerima keputusan mayoritas disaat itulah proses ini dapat digunakan
agar semua anggota dalam organisasi menjalankan keputusan itu dengan baik dan
tidak terjadi perselisihan.
Pengambilan
keputusan ditentukan oleh leader dari organisasi yang sebelumnya bisa di
dapatkan dari proses musyawarah untuk mencapai mufakat dan agar para anggota
dari organisasi tersebut dapat menjalankan tugas dan wewenangnya secara utuh.
Agar mencapai tujuan dari organisasi tersebut maksimal.
Sumber
Referensi :
- Sentanoe Kertonegoro, Manajemen Organisasi,Widya Press, Jakarta
- Kenneth N. Wexley,Ph.D.,Gary A.Yuki,Ph.D., Perilku Organisasi dan Psikologi Personalia,Rineka Cipta
- http://ocw.gunadarma.ac.id/course/computer-science-and-information/information-system-s1-1/teori-organisasi-umum-2-1/proses-organisasi
- https://saifulrohman1.wordpress.com/2014/10/08/proses-mempengaruhi-dan-pengambilan-keputusan-dalam-organisasi/
Bagaimana Proses Mempengaruhi dapat berlangsung ?
Pengertian Motivasi dan Teori-teori Motivasi – Sebuah perusahaan Manufakturing, pada umumnya memiliki jumlah karyawan yang banyak. Agar karyawan-karyawan perusahaan tersebut memiliki kinerja yang baik sehingga mencapai tujuan yang ditetapkan oleh perusahaan, diperlukan Motivasi yang cukup dalam bekerja. Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu “Movere” yang artinya adalah “Menggerakkan”.
Dalam sebuah buku yang saya baca, dikatakan bahwa definisi
dari Motivasi adalah proses-proses psikologis yang menyebabkan Stimulasi,
arahan, dan kegigihan terhadap sebuah kegiatan yang dilakukan secara sukarela
yang diarahkan pada suatu tujuan” (Robert Kreitner, 2014). Saat ini, telah
banyak teori-teori mengenai Motivasi. Hampir semua Teori Motivasi mengemukakan
keterkaitan Motivasi dengan kebutuhan-kebutuhan manusia. Dengan cara memenuhi
kebutuhan manusia tersebut, Motivasi kerja secara otomatis akan terwujud.
Teori-teori Motivasi
Beberapa Teori Motivasi yang sering digunakan diantaranya
adalah :
1. Teori Hierarki Maslow
Teori Hierarki ini dikemukakan oleh seorang psikolog yang
bernama Abraham Maslow pada tahun 1943.
Teori ini mengemukakan 5 kebutuhan hidup manusia berdasarkan Hirarkinya
yaitu mulai dari kebutuhan yang mendasar hingga kebutuhan yang lebih tinggi.
Teori ini kemudian dikenal dengan Teori Maslow atau Teori Hirarki Kebutuhan.
Hirarki kelima Kebutuhan tersebut diantaranya adalah :
Kebutuhan
Fisiologis (Physiological needs), yaitu kebutuhan terhadap makanan, minuman,
air, udara, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Kebutuhan Fisiologis merupakan kebutuhan yang paling mendasar.
Kebutuhan Keamanan
(Safety needs), yaitu kebutuhan akan rasa aman dari kekerasan baik fisik maupun
psikis seperti lingkungan yang aman bebas polusi, perlindungan keselamatan dan
kesehatan kerja serta bebas dari ancaman.
Kebutuhan Sosial
(Social needs), yaitu kebutuhan untuk dicintai dan mencintai. Manusia merupakan
makhluk sosial, Setiap orang yang hidup di dunia memerlukan keluarga dan teman.
Kebutuhan
Penghargaan (Esteem needs), Maslow mengemukan bahwa setelah memenuhi kebutuhan
Fisiologis, Keamanan dan Sosial, orang tersebut berharap diakui oleh orang
lain, memiliki reputasi dan percaya diri serta dihargai oleh setiap orang.
Kebutuhan
Aktualisasi diri (Self-Actualization), Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
tertinggi menurut Maslow, Kebutuhan Aktualisasi diri adalah kebutuhan atau
keinginan seseorang untuk memenuhi ambisi pribadinya.
2. Teori ERG Alderfer
Pada tahun 1969, Clayton Alderfer mempublikasikan artikel
tentang kebutuhan manusia yang berjudul “An Empirical Test of a New Theory of
Human Need”. Teori tersebut merupakan Teori Alternatif terhadap Teori Hirarki
Maslow. Teori ini mengemukan Tiga kebutuhan Manusia yaitu :
Kebutuhan
Eksistensi (Existence needs) yaitu kebutuhan akan pemenuhan faktor fisiologis
dan Materialistis termasuk kebutuhan akan rasa aman.
Kebutuhan Hubungan
(Relatedness needs) yaitu kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain.
Kebutuhan
Pertumbuhan (Growth needs) yaitu kebutuhan atau keinginan untuk bertumbuh dan
mencapai potensi diri secara maksmal.
Teori yang dikemukakan oleh Clayton Alderfer ini kemudian
dikenal dengan Teori ERG Alderfer yaitu singkatan dari Existance, Relatedness
dan Growth.
3. Teori Kebutuhan McClelland
Seorang Psikolog Amerika Serikat yang bernama David
McClelland mengemukan hubungan antara kebutuhan pencapaian, afiliasi dan
kekuasaan pada akhir 1940-an. Teori
Kebutuhan McClelland diantaranya adalah :
Kebutuhan akan
Pencapaian (need for achievement)
Kebutuhan akan
Afiliasi (need for affiliation)
Kebutuhan akan
kekuasaan (need for power)
4. Teori Motivator-Hygiene Herzberg
Frederick Herzberg adalah seorang Psikolog Amerika Serikat
yang mengemukan Teori Motivator-Hygiene Herzberg. Teori tersebut didapat dari
penelitian terhadap 203 akuntan dan teknisi di area Pittsburgh, Amerika
Serikat. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan dua faktor yang berbeda yaitu
kepuasan dan ketidakpuasan dalam bekerja. Teori Motivator-Hygiene Herzberg juga
dikenal dengan Teori Dua Faktor.
Kepuasan bekerja,
yaitu faktor yang berkaitan dengan pengakuan, prestasi, tanggung jawab yang
memberikan kepuasan positif. Faktor ini sering disebut juga dengan Faktor
Motivator.
Ketidakpuasan
bekerja, yaitu faktor yang berkaitan dengan gaji, keamanan bekerja dan
lingkungan kerja yang seringkali memberikan ketidakpuasan. Faktor ini sering
disebut dengan Faktor Hygiene.
5. Teori Harapan Vroom
Seorang professor Kanada yang bernama Victor Vroom pada
tahun 1964 dalam bukunya yang berjudul “Work and Motivation” mengemukan sebuah
Teori Motivasi yang beranggapan bahwa orang-orang termotivasi untuk melakukan
sesuatu karena menginginkan suatu hasil yang diharapkan. Teori tersebut
kemudian dikenal dengan sebutan Teori Harapan atau Expectancy Theory.
Terdapat 3 konsep Teori Harapan Vroom, yaitu :
- Harapan (Expectancy), yaitu kepercayaan seseorang bahwa suatu usaha akan menghasilkan kinerja tertentu. Effort (Usaha) → Performance (Kinerja).
- Instrumentally, yaitu kepercayaan seseorang bahwa suatu kinerja akan mendapatkan hasil tertentu. Performance (Kinerja) → Outcome (Hasil)
- Valensi (Valence), yaitu mengarah pada nilai positif dan negative yang dirujuk oleh orang-orang terhadap sebuah hasil.
Sumber :
